Sebagai sebuah Nagari Tua di Kecamatan Candung Kabupaten Agam, Lasi memiliki beragam budaya yang sudah ada sejak zaman nenek moyang, salah satunya budaya mangucai yang masih tetap dilaksanakan sampai saat kini nangko.
Kata Mangucai dalam bahasa minang mempunyai padanan kata “Mainda” atau “menghindar” dalam bahasa indonesia, mangucai dari dari sesuatu yang seharusnya dilakukan. Budaya ini biasanya dilaksanakan oleh laki-laki yang baru saja menikah, dilakukan pada hari ketujuh sejak pertama datang keruamh istri, tepatnya hari kamis, karena kalau di nagari Lasi seorang laki-laki pertama kali datang kerumah istri setelah dijapuik adalah hari jumat.
Seharusnya sejak pertama kali datang kerumah istri, silelaki akan menetap disana, namun pada hari ketujuh mulai kamis pagi, Ia akan pulang kerumah orang tuanya dan tidak kembali sebelum dijemput oleh sang istri, itulah yang disebut “mangucai”
Setelah beberapa hari acara alek yang diselenggarakan oleh kedua belah pihak selesai, maka keluarga yang dari rantau akan kembali ke perantauan. Rumah mulai sepi, yang tinggal hanya kedua orang tua dan beberapa family saja. Pada tahap ini mulai muncul beberapa permasalahan seperti rumah yang harus dibersihkan setelah selesai baralek, perlengkapan yang dipinjam seperti piring dan lain sebagainya yang harus dikembalikan ataupun bisa juga hutang baralek yang harus dibayar. Pada saat itu kehadiran anak laki laki tentulah sangat dibutuhkan, untuk membantu membersihkan rumah, mengembalikan peralatan yang dipinjam ataupun ikut berpikir menyelesaikan permasalahan yang mungkin muncul setelah baralek.
Si laki laki Mangucai pada kamis pagi, dan hari jumat setelah shalat jumat malam ia baru kembali kerumah si istrinya, selama 2 (dua) hari tersebut adalah waktu membantu orang tua dan evaluasi semua kegiatan selama baralek.
Dari budaya mengucai ini dapat kita ambil pelajaran yang sangat berharga, bagaimana seorang anak bertanggung jawab kepada orang tuanya, “raso rusuah, taragak jo rindu akan bagamuruah didado urang baru ko salamo mangucai, iko akan jadi palajaran baginyo bahaso bajauahan tu manaragak” kata Edimuhardi Gindo katik kepada admin disela sela kesibukanya di memimpin usaha perabot yang suduah digeluti sejak lama dibilangan jorong lasi Mudo Kenagarian lasi sambil mairuk rokok gudang garam sirah kesukaan beliau.
