
Adalah ungkapan di Minangkabau tentang, yang di Nagari Lasi dipahami sebagai perumpamaan seorang anak kemenakan dalam menimba ilmu dan pengalaman serta juga merupakan tugas seorang mamak dan seorang Bapak kepada Kemenakan dan anaknya.
Batahun Duduak Jo Guru menjelaskan tentang perjuangan seorang kemenakan dalam menuntut ilmu, butuh waktu yang panjang dan kesabaran dalam melaluinya. Dengan guru Ianya akan mendapatkan ilmu baiak Lahia ataupun Batin. Menuntut ilmu dengan guru walau butuh waktu yg panjang tetap ado bateh jo inggo nyo, bisa sampai kaji baputuhi (sampai ilmu di uji) atau mungkin sampai batas waktu yang ditentukan (bisa sebulan, setahun) atau sampai mendapatkan ijazah dari sang guru. Sedangkan dengan Mamak (Bamusim) tidak ada batas waktunya (lai ado juo Mamak jo kamanakan) di tungganai bisa jadi kito alah jadi mamak, tapi di warih jo di kaum mungkin masih jadi kamakan. Selama itu tatap kito manuntuik ilmu dan mancari pangalaman, paliang tidak baraja manyalasai di nan kusuik.
Kato Bamusim dapat diartikan sebuah waktu yang panjang dengan kondisi yang berubah ubah, atau tidak sembarang waktu. Bisa musim kemarau, musim hujan atau musim buah buahan, Bisa jadi musim nya sesuai dengan yang kita harapkan, atau bisa jadi musim tersebut jauh dari keinginan.
“Bamusim” adalah kata kiasan tentang silih berganti dan beragamnya permasalahan yang dihadapi Seorang Mamak, permasalahan tersebutlah yang dijadikan mamak dalam mendidik kemenakannya, dengan cara membawa kemenakannya ikutserta dalam penyelesaian dari awal sampai akhir, mungkin masalah tanah, konflik keluarga, gadih gadang alun balaki, pusako mintak babagi, atau lain sebagainya, dan masalah2 itu bisa saja berulang ulang dilalui dan diselesaikan, sang mamak akan melibatkan dan mengajarkan kepada kemenakannya tentang penyelesaian mulai dari awal sampai selesai, kemenakan akan dibawa serta dalam tahap demi tahap, disinilah pengertian tagak, dengan tagak badiri, ia kan mudah berjalan kesana kemari dalam belajar dan ikut berpikir menyelesaikan dan mencarikan solusi.
Diminangkabau Bapak dan Mamak itu diibaratkan Gelas dan Air, Mamak mempunyai Gelas dan Bapak memiliki Airnya. Sang mamak memiliki banyak gelas (saudara perempuan dan atau kemenakan perempuan dengan keluarganya) sedangkan sang Bapak Cuma memiliki satu gelas (keluarganya, istri dan anaknya) yang akan ia isi dengan airnya.
Kita bisa bayangkan betapa beratnya tugas mamak yang mempunyai banyak keluarga yang akan diisi oleh Sumando nya atau suami dari saudara perempuan, masing masing sumando tadi sudah jelas punya kurenah, latar belakang, karakter, pengetahuan yang berbeda beda. Kondisi ini sudah barang tentu akan berpengaruh kepada kaum, kalau sumando kacang miang, tantu isi galeh (kamanakan) bisa kacang miang pulo, kalau sumando lapiak buruak, yo lah sansai mamak dek nyo, kalau sumando niniak mamak lai lah salasai kamanakan dan agak ringan kapalo mamak. Itulah yang akan dikelola oleh sang mamak dalam mempertahankan eksistensi kaumnya, sedangkan bapak di Limbago hanya mengurus keluarganya sajo.
Bersama mamak, disamping baraja teori, kamanakan akan langsung dibawa praktek oleh mamak nya, ia juga akan langsung dapat pengalaman, ia akan dididik dan disiapkan melalui pengalaman oleh Mamaknya dari ketek sampai Ia sendiri mendapat predikat Mamak di kaumnya
(Tagelek Luhua, 22 April 2025)




Leave a Reply