
Mambubua adalah tradisi turun temurun nan di paturun panaikan di sumatera barat. Tradisi ini pada masing masing nagari berbeda beda pelaksanaanya, ada yang dilaksanakan 7 (tujuh) bulan kehamilan, ada juga yang melaksanakan beberapa hari setelah anak lahir.
Di Nagari Lasi Kec .Candung misalnya, Mambubua dilaksanakan setelah cucu lahir. Keluarga dari suami atau Bako akan datang menjemput si cucu dan ibunya ke tempat melahirkan, baik melahirkan di Bidan ataupun melahirkan di Dukun Beranak, Mereka datang menjemput pada waktu Si Istri dan anak yang baru lahir sudah diperbolehkan pulang. lalu bersama sama pulang kerumah si istri. Kemudian Lebih kurang 2 (dua) hari mertua perempuan (maronggohi) atau akan tinggal dengan menantunya untuk :
menemani dan membatu menantunya yang masih lemah habis melahirkan,
Mengajari menantunya si Ibu Muda caro (cara) mengurus bayi, bagaimana cara memandikan, menyuapi, menyusui dan lain sebagainya yang berhubungan dengan bayi.
Manujuak ma ajai atau mengajari sang suami atau anak laki lakinya untuk mengambil alih beberapa kegiatan rumah tangga selama sang istri masih lemah habis melahirkan. Sang suami tentu akan lebih nurut kalau ibunya yg menyuruh melakukan sebagian kegiatan rumah tanggo tersebut
Setelah 2 (dua) hari tando cucu lai babako, saudara perempuan se ibu dan yang se Kaum dengan suami akan datang .dengan membawa beberapa perlengkapan yang dimasukan kedalam Katidiang Rotan seperti, Beras, Minyak Tanah (dalam botol, dijinjing) , Sabun, Garam, Lado, dan 1 (satu) ekor ayam nan sesuai dengan cucu yang lahir, laki laki dibawa ayam jantan, perempuan dibawa ayam betina dengan dikapik kapalonyo arah kabalakang.
Saat datang perlengkapan yang sudah dimasukan kedalam katidiang dibawa diatas kepala atau di jujuang oleh saudara perempuan sang suami dengan berbaju kurung, batingkuluak kain saresek dan bakodek kain panjang.
Saat kembalinya, katidiang dikapik atau dipegang dengan satu tangan sebagai tanda bahwa katidiang ringan menandakan isinya sudah ditinggal ditempat cucu yang baru lahir, juga memperlihatkan kepada orang kampung bahwa bakonya sudah Mambubua terhadap cucu yang baru lahir.
Filosofi dari kegiatan mambubua ini memperlihatkan perhatian mertua terhadap menantu serta perhatian Bako kepada anak pusakonyq yang baru lahir, kalau bahasa orang sekarang dibantu ransum sembako untuk beberapa hari sampai menantunya betul betul kuat dan sehat kembali untuk mengurus anak dan suaminya




Leave a Reply