SALASAI TALATAK JO LAPUAK TALATAK

Ndak ado kusuik nan ndak salasai, ndak ado karuah nan tak janiah, adalah ungkapan diranah minang yang menyatakan bahwa semua permasalahan itu ada jalan penyelesaianya, asalkan kita mau dan berupaya menyelesaikan dengan sabar, “karuah indak ma undak undak, kusuik indak ma enjo enjo” insha allah bisa dicarikan solusinya.
Namun ada sebagian masarakat dalam menyelesasikan masalah dengan tidak menyelesasikannya, yang di ranah minang biasa disebut “SALASAI TALATAK JO LAPUAK TALATAK”
“SALASAI TALATAK” adalah sebuah ungkapan yang biasa dipakai oleh masarakat di ranah minang dalam melihat suatu permasalahan dengan membiarkan saja masalah itu berjalan sampai titik akhirnya, dengan harapan akan selesai dengan sendirinya.
Contoh ; Sebut saja seorang mamak kepala kaum, ketika dikaumnya ada permasalahan sesama anak kamanakan, tidak tegur sapa Karena tersebab masalah dalam keluarga, Ianya tidak mau menegahi permasalahan tersebut, ia cenderung membiarkan, dengan harapan dalam perjalanan masalah akan selesasi dengan sendirinya, “dikirai mangkonyo basah” melalui kegiatan kegiatan kaum atau kegiatan keluarga yang tanpa disadari akan kembali meng akurkan anak kemenakan yang bermasalah tadi.
Ada beberapa kemungkinan, kenapa sang mamak membiarkan masalah tersebut talatak atau tidak diselesaikan sama sekalai :

  1. Dibiarkan talatak dengan harapan permasalahan bisa selesai dengan sendirinya
  2. Jika diselesaikan oleh sang mamak, beliau takut permasalah akan semakin meruyak atau bertambah parah, bisa bisa Tabaco nan tasaruek (nan tasuruak) yang memungkinkan permasalahan tambah runyam dan dalam.

Disamping salasai talatak, adalagi ungkapan “LAPUAK TALATAK” ungkapan ini menjelaskan tentang permasalah yang dibiarkan saja dengan harapan permasalah ini menjadi lapuk dan terlupakan hingga bisa selesai dengan sendirinya, Namun lapuak talatak ini selesai dipermukaan saja, didalam Ianya tambah parah, meninggalkan sisa sisa problem yang mungkin suatu saat akan hidup lagi labiah besar ditengah tengah anak kamanakan, mungkin orang kampung indak namuah mambaco dikarenakan “ kusuik bulu, paruah manyalasaikan dan kalaupun itu menjadi utang adat , nyo batanggokan, indak batunggu an.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hubungi Kami